Kemjuan teknologi membawa kerentanan keamanan dari teknologi yang ada. Merespons adanya tantangan keamanan siber dan urgensi investigasi digital di era modern, Himpunan Mahasiswa Informatika Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (UNTAN) menyelenggarakan Workshop Cyber Security bertajuk "Digital Forensics: Hands-on Investigation with Autopsy & Mobile Forensic". Diikuti oleh lebih dari 45 peserta mahasiswa, kegiatan ini berlangsung dengan antusiasme yang luar biasa. Tingginya partisipasi ini menjadi bukti nyata bahwa kesadaran akademik terhadap pentingnya keahlian pelacakan insiden siber semakin menguat di kalangan mahasiswa, seiring dengan masifnya ancaman dan kejahatan digital saat ini.
Sebagai narasumber utama, acara ini menghadirkan kepakaran Bapak Novi Safriadi, S.T., M.T., seorang akademisi sekaligus praktisi ahli di bidang forensik digital dan keamanan siber. Beliau yang juga menjabat sebagai Kepala UPT. Teknologi Informasi dan Komunikasi UNTAN (2024) serta Tenaga Ahli Digital Forensik dan ITE sejak 2018, membagikan wawasannya yang sangat kaya. Lulusan Magister Informatika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tidak hanya berbekal keilmuan teoritis, tetapi juga validasi profesional melalui lisensi Digital Forensic Examiner dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), spesialisasi di bidang Cyber Security, dan sertifikasi spesifik dari Oxygen Forensic. Reputasi beliau yang solid memfasilitasi transformasi materi keamanan siber dan investigasi forensik yang rumit menjadi diskusi yang renyah dan mudah dicerna oleh para peserta.
Berbeda dengan seminar ataupun workshop konvensional lainnya, daya tarik utama dari workshop ini terletak pada metode pembelajarannya yang langsung bertumpu pada praktik. Di bawah panduan komprehensif Bapak Novi, seluruh peserta tidak hanya duduk mendengarkan, melainkan langsung menyimulasikan peran sebagai seorang investigator insiden siber. Mereka diajak membedah kasus keamanan menggunakan perangkat lunak Autopsy dan berbagai instrumen Mobile Forensic. Melalui simulasi langsung—mulai dari proses akuisisi, ekstraksi data, analisis artefak tersembunyi, hingga rekonstruksi bukti digital—peserta dapat merasakan pengalaman nyata memecahkan teka-teki celah keamanan sistem secara interaktif.
Pada akhirnya, kegiatan workshop ini bukan sebatas ajang pengenalan piranti lunak, melainkan langkah strategis dalam mengasah daya kritis dan integritas akademik mahasiswa. Pembekalan kompetensi spesifik di ranah Cyber Security seperti ini sangat krusial sebagai bekal untuk mencetak talenta digital yang adaptif dan beretika. Ke depannya, inovasi-inovasi kegiatan serupa diharapkan terus menjadi tradisi guna menjawab kebutuhan industri teknologi informasi yang kian dinamis, khususnya di lini depan pertahanan siber dan penegakan hukum digital.
